TEKS SULUH NEWS


Jumat, 22 Juli 2016

Chairil Anwar

Chairil Anwar
Lahir (Medan, 26 Julai 1922). Dia dibesarkan dalam keluarga yang cukup berantakan. Kedua ibu bapanya bercerai, dan ayahnya berkahwin lagi. Selepas perceraian itu, saat habis SMA, Chairil mengikut ibunya ke Jakarta.
Chairil Anwar merupakan anak tunggal. Ayahnya bernama Toeloes, mantan bupati Kabupaten Indragiri Riau, berasal dari Taeh BaruahLimapuluh KotaSumatra Barat. Sedangkan ibunya Saleha, berasal dari Situjuh, Limapuluh Kota.  Dia masih punya pertalian keluarga denganSutan SjahrirPerdana Menteri pertama Indonesia. Chairil menguasai bahasa Inggrisbahasa Belanda dan bahasa Jerman, dan dia mengisi jam-jamnya dengan membaca karya-karya pengarang internasional ternama, seperti: Rainer M. RilkeW.H. AudenArchibald MacLeish,H. MarsmanJ. Slaurhoff dan Edgar du Perron. Penulis-penulis ini sangat memengaruhi tulisannya dan secara tidak langsung memengaruhi puisi tatanan kesusasteraan Indonesia.
Semasa kecil di Medan, Chairil sangat rapat dengan neneknya. Keakraban ini begitu memberi kesan kepada hidup Chairil. Dalam hidupnya yang amat jarang berduka, salah satu kepedihan terhebat adalah saat neneknya meninggal dunia. Chairil melukiskan kedukaan itu dalam sajak yang luar biasa pedih:
Bukan kematian benar yang menusuk kalbu/ Keridlaanmu menerima segala tiba/ Tak kutahu setinggi itu atas debu/ Dan duka maha tuan bertahta

Nama Chairil mulai terkenal dalam dunia sastera setelah pemuatan tulisannya di "Majalah Nisan" pada tahun 1942, pada saat itu dia baru berusia dua puluh tahun. Hampir semua puisi-puisi yang dia tulis merujuk pada kematian.. Chairil ketika menjadi penyiar radio Jepang di Jakarta jatuh cinta pada Sri Ayati tetapi hingga akhir hayatnya Chairil tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya. Puisi-puisinya beredar di atas kertas murah selama masa pendudukan Jepang di Indonesia dan tidak diterbitkan hingga tahun 1945.
Karya tulis yang diterbitkan
Kena Gempur (1951), terjemahan karya John Steinbeck
Terjemahan ke bahasa asing
Karya-karya Chairil juga banyak diterjemahkan ke dalam bahasa asing, antara lain bahasa InggrisJerman dan Spanyol. Terjemahan karya-karyanya di antaranya adalah:
  • "Sharp gravel, Indonesian poems", oleh Donna M. Dickinson (Berkeley, California, 1960)
  • "Cuatro poemas indonesios [por] Amir Hamzah, Chairil Anwar, Walujati" (Madrid: Palma de Mallorca, 1962)
  • Chairil Anwar: Selected Poems oleh Burton Raffel dan Nurdin Salam (New York, New Directions, 1963)
  • "Only Dust: Three Modern Indonesian Poets", oleh Ulli Beier (Port Moresby [New Guinea]: Papua Pocket Poets, 1969)
  • The Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, disunting dan diterjemahkan oleh Burton Raffel (Albany, State University of New York Press, 1970)
  • The Complete Poems of Chairil Anwar, disunting dan diterjemahkan oleh Liaw Yock Fang, dengan bantuan H. B. Jassin (Singapore: University Education Press, 1974)
  • Feuer und Asche: sämtliche Gedichte, Indonesisch/Deutsch oleh Walter Karwath (Wina: Octopus Verlag, 1978)
  • The Voice of the Night: Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, oleh Burton Raffel (Athens, Ohio: Ohio University, Center for International Studies, 1993)

Akhir hidup
Vitalitas puitis Chairil tidak pernah diimbangi kondisi fisiknya, yang bertambah lemah akibat gaya hidupnya yang semrawut. Sebelum dia bisa menginjak usia dua puluh tujuh tahun, dia sudah kena sejumlah penyakit. Chairil Anwar meninggal dalam usia muda karena penyakit TBC[7] Dia dikuburkan di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta. Makamnya diziarahi oleh ribuan pengagumnya dari zaman ke zaman. Hari meninggalnya juga selalu diperingati sebagai Hari Chairil Anwar.

Kumpulan Puisi Chairil Anwar

AKU

Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Maret 1943

SAJAK PUTIH

Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda

Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku

Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah...

SENJA DI PELABUHAN KECIL
buat: Sri Ajati

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap

1946

CINTAKU JAUH DI PULAU

Cintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri

Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak 'kan sampai padanya.

Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
"Tujukan perahu ke pangkuanku saja,"

Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!
Perahu yang bersama 'kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

Manisku jauh di pulau,
kalau 'ku mati, dia mati iseng sendiri.

1946
DERAI DERAI CEMARA

cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam

aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini

hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah

1949

KRAWANG-BEKASI

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi

(1948)

Jumat, 14 Agustus 2015

Surau Kampung Gelatik Antologi Khas




Telah lahir di Sastra Indonesia sebuah antologi puisi yang ditulis oleh Rg Bagus Warsono dengan 21 penyair lain dalam mengisi ibadah saum Ramadhan 1436 H yang baru lalu. Antologi yang berjudul Surau Kampung Gelatik ini akan turut mewarnai dunia sastra Indonesia yang syarat dengan berbagai antologi dari berbagai penjuru Tanah Air. Kekhasan antologi adalah karena syairnya yang mengangkat tema puasa di berbagai tempat di Indonesia dengan sudut pandang penyair Rg Bagus warsono dan 21 penyair lainnya. Buku yang diterbitkan oleh Sibukumedia Yogyakarta ini tidak untuk dijual belikan tetapi untuk dibaca siapa saja. Beberapa penyair pendukung antologi ini adalah:Rg Bagus Warsono, dkkDaftar Penyair Pendukung Antologi1. Budhi Setyawan, Bekasi.
2. Bagus Setyoko Purwo , Jakarta
3. Dian Rusdiana, Bekasi.
4. Bambang Widiatmoko, Jakarta.
5. Heru Mugiarso, Semarang.
6. Ayid Suyitno PS, Bekasi.
7. Aloeth Pathi, Margoyoso-Pati.
8. Osratus, Sorong Papua.
9. Andrian Eksa,Boyolali.
10.Syarif hidayatullah, Banjarmasin Timur.
11.Didi Kaha (Usman Didi Khamdani) , Tangerang Selatan.
12.Mahbub Junaedi, Brebes .
13.NURAINI , Solo.
14.Ali Syamsudin Arsi,Banjarbaru.
15.Hasan Bisri BFC , Bogor.
16.Riswo Mulyadi, Banyumas Jawa Tengah.
17.Eddie MNS Soemanto, kelahiran Padang
18.Aris Rahman Yusuf Mojokerto, Jawa Timur.
19.ARIF KHILA, Pati.
20.Nani Tandjung, Jakarta.21.Kurnia Fajar, Wonogiri.

Sajian syair-syair Ramadhan pada 1436 H yang sengaja ditulis sebagai bagian hidup penyair mengisi kegiatan di saat menjalankan ibadah saum Ramadhan. Puisi yang memotret kenyataan Ramadhan di Indonesia dengan penuh makna dan aneka suasana, namun juga harap.
Ingin rasanya memenuhi semua yang ada, namun tak begitu mudah menemukan inspirasi yang dapat menjadikan sebuah buku dalam satu tema tersendiri.
Buku ini pun mendapat warna penyair-penyair pendukung sebagai sorotan dari makna Ramadhan di Indonesia itu. Jadilah sebuah anologi yang dapat dinikmati pembaca di manapun. Sungguhpun demikian kami mengucapkan salam dan penghargaan bagi pembaca atas apresiasi antologi ini. Rasa syukur atas terbitnya antologi ini sebagai hikmah Ramadhan dari penyair berupa lahirnya puisi dengan judul Surau Kampung Gelatik

Sabtu, 16 Mei 2015

Antologi dengan puisi-puisi terkenal , Mas Karebet karya penyair Indonesia Rg Bagus Warsono , Potong Jari Manisku Saja, Tangkap Aku Walau di Sangkarmu


Tangkap Aku walau di Sangkarmu


                                                                             Karya : Rg Bagus Warsono

Rupanya diklat belut putih berhasil menyentuh
pejabat-pejabat eselon
kemudian dikirim untuk menjadi sastrawan
agar pandai mengarang cerita
mimpi, hayal, rekacerita, sampai ngarang cerpen dan novel
humaniora dan hukum konvensional
maka kuatlah ia
sekarang
tangkap aku walau di sangkarmu
jangan pakai surat undangan
jemput paksa atau cekal luar kota
aku akan datang sendiri ke KPK
menghampiri pendekar-pendekar pembela Tanah Air
tangkap aku walau di sarangmu
maka
aku tak meminta kau menyuruhku pulang
aku tak memohon kau mengabulkan
tangkap aku walau di sangkarmu
aku tak akan terbang
silahkan tangkap aku walau di sangkarmu.

                                                           Indramayu, 8 Nofember 2013



POTONG JARI MANISKU SAJA

                                                                                          karya Rg. Bagus Warsono
'
Potong Jari Manisku Saja
Boleh di dua tanganku
dan sayur sup beraroma khas nusantara
kupersembahkan untuk tuan mulia
dengan pernyataan bermaterai sejuta
karna yang enamribu masih bisa ditipu
dan aku hadirkan seratus saksi biksu
karna saksi berni kalau seratusjuta
Tuan tak ada algojo muntilasi
tembak mati berarti menunggu
hukum mati berarti menunggu taubat
dikurung berari bersembunyi
banding berari menambah rezeki
boleh di dua tanganku
dengan mangkuk kuah kaldu
Potong jari manisku saja
tanpa publikasi
karena semua yakin untuk tulang sup negeri
dan ada cctv sebagai saksi tadi malam
yang tiada gambar karena petang
gelap warna meski baterai baru
yang terlihat hanya darah
menghitam menutupi semua layar
menimbulkan keyakinan hakim
tak pengaruh bila tiada jari manis
kalian bebas tanpa syarat..............................
Potong jari manisku saja katanya.

                                            Indramayu, 23 Oktober 2013


Penulis : Rg Bagus Warsono
Editor   : Yoen
Perwajahan Isi : Simages
Desain Sampul :  Eha
Diterbitkan oleh :
Sibuku Media
Alamat : Ngringinan , Palbang , Bantul, Batul Yogyakarta

Katalog Dalam Terbitan (KDT)
Rg. Bagus Warsono, Mas Karebet;
Editor :Yoen-cetakan 1- Yogyakarta:Sibuku Media 2015
ISBN :978-602-0829-08-1

Hak Cipta dilindungi undang-undang

Cetakan 1, April 2015

Penulis :Rg Bagus Warsono (lahir di Tegal, Jawa Tengah, 29 Agustus 1965; umur 49 tahun) adalah sastrawan Indonesia. Menulis sejak bangku sekolah berupa puisi di Pikiran Rakyatedisi Cirebon, dan sejak tahun (1985) menulis puisi, cerita pendek, cerita anak, dan artikel di berbagai media massa di antara lain Majalah Gentra Pramuka, Bekal Pembina, Mingguan Pelajar, Pikiran Rakyat, Suara Karya, Binakop, Bhinneka Karya Winaya, Suara Guru, dan Suara Daerah. Buku puisinya antara lain Bunyikan Aksara Hatimu (1992),Jangan Jadi sastrawan , Indhi Publishing (2014), Jakarta Tak Mau Pindah (Indhie publishing, Jakarta 2014), Si Bung (Leutikaprio, Yogyakarta 2014), dan Mas Karebet (Sibuku Media, Yogyakarta, 2015). Selain sebagai menyair, dia mendirikan Himpunan Masyarakat Gemar Membaca.
Setamat SPG melanjutkan ke UTPGSD , kemudian ke STAI Salahudin di Jakarta, dan Mengambil Magister STIA Yappan Jakarta. Sambil menjadi Guru , dia menggeluti profesi sebagai jurnalis sejak tahun (1992), reporter Majalah Gentra Pramuka dan Hamdalah (1999), kegiatan reportasi di bawah organisasi profesi Persatuan Wartawan Indonesi (PWI) Cabang jawa Barat dan pengamat sinetron. Kini, Rg Bagus Warsono adalah pengasuh sanggar sastra Meronte Jarring di Indramayu yang didirikan 2011 dan coordinator Himpunan Masyarakat Gemar membaca (HMGM) sejak tahun 1992 yang berpusat di Indramayu. Sejak tahun 2014 dia adalah penggagas antologi Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia yang dikelolanya sejak 2013 untuk mendokumentasikan karya-karya penyair terkini dari seluruh Indonesi, kini telah menerbitkan jilid III yang diterbitkan oleh penerbit Sibuku Media, yogyakarta, tokoh lainnya dalam lumbung puisi adalah Sosiawan Leak, Wardjito Soeharso, Tomas Haryanto Soekiran, Hasan Bisri, BSC, Dyah Styawati, Ahmad RH zaid, dan Ali Arsy. Aktif sebagai penggagas, kurator, editor, sekaligus ikut membidani terbitnya buku Saksi Ibu Melihat Reformasi (2012). Rg Bagus Warsono tercatat kerap menyelenggarakan berbagai lomba baca/cipata puisi dan mengasuh remaja belajar sastra di sanggar Meronte Jaring.
BibliografiBunyikan Aksara Hatimu
Jangan Jadi sastrawan
Jakarta Tak Mau Pindah
Si Bung
Mas Karebet
Karya bersamaPuisi Menolak Korupsi
Memo untuk Presiden
Tifa Nusantara 1
PenghargaanPenulis Cerita Anak Depdikbud 2004

Judul : Jakarta Tak Mau Pindah No. ISBN : 978-602-281-077-3 Penyusun : Rg. Bagus Warsono Tahun terbit : April 2014 http://www.indie-publishing.com/koleksi-buku/#sthash.qoFh7Q1N.dpufhttp://www.indie-publishing.com/koleksi-buku/

Judul : Jangan Jadi Sastrawan No. ISBN : 978-602-281-069-8 Penulis : Rg. Bagus Warsono Tahun terbit : Februari 2014  http://www.indie-publishing.com/koleksi-buku/page/2/#sthash.26rM2drZ.dpufhttp://www.indie-publishing.com/http://www.

http://www.leutikaprio.com/produk/11028/kumpulan_puisi/1403974/si_bung/14025891/rg_bagus_warsono Penulis: Rg. Bagus Warsono, Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-225-819-3
leutikaprio.com/penulis/14025891/rg_bagus_warsono

http://gerakanpuisimenolakkorupsi.blogspot.com/2014/06/puisi-menolak-korupsi-pmk-antolog-puisi.html

Sabtu, 02 Mei 2015

Untuk kita renungkan ! Di Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2015

Untuk kita renungkan !
Di Hari Pendidikan Nasional
1. Gonta-ganti Kurikulum
2. Biaya Oprasional Sekolah (BOS) yang menghitung jumlah siswa per sekolah tetapi biaya sekolah tetap mahal
3. Sistem online pen-data-an pokok pendidikan tak seindah sistem manual
4. Rekrutment Guru tidak jelas
5. Banyak pengabdi pendidikan yang dibayar murah (guru sukarelawan) yang tidak diperhatikan
6. Kreatifitas siswa dibelenggu , percuma menciptakan ini itu
7. Dinas pendididikan di daerah hanya ribut rebutan Jabatan
8. Buku -buku siswa harus beli mahal
9. Tunjangan fungsional (sertifikasi) slalu terlambat
10. Program Mentri hanya slogan ferbalis.
Rg. Bagus Warsono

Puisi -puisi Si Bung

1

Si Bung Crying
Let's open your history books
with a ruler and pen
suppress word
Duhai kesuma
should learn to spell
Wherever was your age adults
Smiling Si Bung
view
the nation's children
Betanyalah! Why
I choose sunglasses
so I do not see
so you do not see
There
Si Bung open glasses
tears petrified in a handkerchief
Red and white
Why can not my sleep soundly
Duhai kesuma
Cover me with your white red.
Indramayu, March 21, 2001, Rg. Nice Warsono

2

I'm Watching
Images struggle
Of the book you wrote
From the photos that you collect
And
fi
lm which you rotate
Only sekuku
ireng
suffering
I see thousands of heads in tears
I saw blood clot in frozen corpses
I watched the wrenching pain suffered
Misery
Hungry
Fright
Pain
I witnessed.
Rg Good Warsono, 1996

3

Do not Visit Nisanku
You pray for me, but you
nisanku stone littering with cigarette ash
moisten with buffalo dung
and stomp with your feet peaceful bumiku
unclean.
While swiftlet in respecting the South Coast
and forest monkeys away felt she did not belong
bumiku peace
Though I do not forbid
Sementra beggars, the homeless, and farmers
send prayers sincerely
without prayers engineered
That only depraved officials shut us
Do you visit nisanku
If you do not want to see
Because I actually
Already not there
When people like you come in my place.
Rg Good Warson, 1993

Pengantar Antologi Si Bung

Dear readers, there is no other word except my thanks for the appreciation readers willing to read the poems in the anthology which was named Si Dude. An inspiration of our inspiration Dr. H Akhmad Sukarno, a great leader of the Revolution, proclaimed Republic of Indonesia and also a true artist. From her profile inspire poems we collect in ten years. Special treat for the readers, to be enjoyed as art. Greetings Rg. nice Warsono

Poetry Anthology author Lumbung Indonesian writers say Thanks to:

Poetry Anthology author Lumbung Indonesian writers say
Thanks to:
Mr. Sosiawan Leak, guest faculty lecturer of literature at several universities in Central Java, Drs. Wardjito Soeharso, Widyaswara on Prop Training Agency. Java, Mrs. Dyah Setyawati, People female poet Indonseia in Tegal, Mr. Ali Throne (Ali Syamsudin Arsi, MPd.) Banjarbaru education activists in Central Kalimantan, Mr. Hasan Bisri BSC, character studio poet and literary leaders in Bogor West Java, Mr. Budhi Setiawan, MPd , , Education activists and leaders of the literary studio in Bekasi, Mr. Sofyan RH Zaid, education activist and poet leaders in Jakarta, Drs, Thomas Haryanto Soekiran, education activists and leaders studio Literature, Dance and Theatre in Purworejo in Central Java and Nurochman Soedibyo Mr. YS, Spd , (Ki Tapa Kelana) artists in Tegal, and the whole family HMGM in the country, on the publication of letters Indonesia Lumbung Poetry Volume III 2015

Kamis, 18 September 2014

ratusan hektar sawah di desa Pekandangajn, Dukuh, Plumbon dan Telukagung kecamatan Indramayu kabupaten Indramayu yang ditanami padi yang kini berusia 2-3 bulan terancam fuso dikarenakan kekeringan yang berkepanjangan


Sekitar ratusan hektar sawah di desa Pekandangajn, Dukuh, Plumbon dan Telukagung kecamatan Indramayu kabupaten Indramayu yang ditanami padi yang kini berusia 2-3 bulan terancam fuso dikarenakan kekeringan yang berkepanjangan. Petani telah mngusahakan dengan pompanisasi air dari sungai cimanuk namun karena sawah telah retak-dalam di pesawahan itu maka pompanisasi yang dilakukan oleh panitia di tiap desa itu tak sanggup mengairi sawah di desanya. Menurut Junaedi, warga petani desa Dukuh, mengatakan bahwatelah dilakukan pompanisasi air dari sungai cimanuk, namun parit pun ikut kering dan mengalami retak-dalam pada dasar parit sehingga air habis diperjalanan menuju ke sawah. Keadaan ini perlu dievaluasi prakiraan tanam padi 'sadon' (tanam kedua pada tahun ini) agar pada tahun depan tidak terjadi musibah ini dengan mempercepat masa tenggang (kekosongan tanam). Untuk menanggulangi tanaman padi yang tengah hamil buah perlu dimusyawarahkan jalan keluarnya dengan cara cepat, misalnya dengan membuat sumur pompa,namun tentu saja akan mengeluarkan biaya dan makan waktu. Para petani di daerah itu akhirnya hanya pasrah saja sambil menatap tanaman padinya yang hampir mati kekeringan. (Suluh New, 15-9-2014)

Jumat, 28 Februari 2014

Apa yang boleh dibuat sebagai produksi dalam negeri?

Kalau ga lucu ya bukan Indonesia.

Di era pasar bebas sekarang ini kelihatannya Indonesia lebih memilih menjadi negara konsumen ketimbang sebagai negara produsen. Pokoknya lebih baik membeli dari pada membuat sendiri. Hal produk apa aja-lah. Mobil, jangan dibuat sendiri, beli aja, dan
jangan coba-coba membuat meskipun bisa membuatnya. Oli sintesis jangan dibuat sendiri, dan jangan coba-coba membuat oli dari bahan sintesis. Alat-alat persenjataan jangan buat yang canggih, beli aja dari luar. Sepeda motor juga jangan coba buat sendiri, kalau maksa dijamin ga diberi pangsa pasar domestik. Jadi apa yang boleh?
Nah yang boleh dibuat sendiri adalah : dokar, gula aren/kelapa, golok atau parang alat pertanian, dan makanan tradisional.


Selasa, 26 Maret 2013

HARGA LOMBOK MERAH NAIK ITU BIASA




agus warsono
HARGA LOMBOK  MERAH NAIK ITU BIASA, ini sudah sejak dulu. Biasanya naik menjelang bulan Ramadhan dan Idul Fitri. Kenaikan harga lombok merah itu disebabkan oleh beberapa masalah yang masih menjadi PR pemerintah saat ini.
   Agaknya setrategi Kementrian Pertanian tentang swasembada pangan belumlah dikatakan mendapat acungan jempol, munkin litbangnya tidak dioptimalkan, padahal jumlah penduduk Indonesia dan daratan Indonesia yang luas masih sebanding untuk pangan sehari-hari. Bayangkan negara Singapura dan Hongkong yang menggantungkan pangannya dari negara lain.
   Namun kenyataan lain, seandainya pemerintah tak mengimpor beras, maka kita kesulitan beras dan beras menjadi mahal, namun juga patut dipikirkan jika tidak mengimpor seperti di awal-awal kemerdekaan bumi Indonesia ini bisa memberi makan penduduk Indonesia meskipun sampai membuat tiwul (nasi ubi) atau burgur (nasi jagung).
   Halnya mengenai lombok, sebagai bahan makanan bumbu penyedap dan keperluan lainnya sebagai sambal
masakan Indonesia sudah menjadi kebutuhan pokok sama seperti bawang dan bu,mbu lainnya. Disuatu daerah mendadak langka saja, maka rakyat akan teriak lombok tidak ada dan harga lombok selangit.
   Peran kementrian pertanian kini menjadi tidak terfokus karena banyaknya dilematika kebutuhan pertanian kita. "Asal Bapak Senang" agaknya masih saja dipakai oleh jajaran kementrian pertanian kita, Buktinya setiap panen slalu didatangkan Mentri atau Presiden tetapi ketika kekurangan air untuk pertanian mereka para petani bergotong-royong memecahkan masalahnya sendiri, bahkan yang terjadi justru air pertanian dijual belikan.
   Permasalahan lain di Indonesia ini adalah permasalahan ketimpangan sosial antara pemilik lahan dan buruh tani. Dimana-mana di setiap desa  di Indonesia terlihat nyata jelas bahwa jumlah buruh tani lebih banyak dari jumlah pemilik lahan. Banyak buruh taninya ketimbang petaninya. Ini menjadi pemikiran kepada para anggota DPR agar membatasi jumlah lahan meilik perorangan dan perusahaan. Pada masa Presiden Soeharto dulu, ada perkebunan inti rakyat yang bertujuan agar rakyat memiliki lahan pertaniannya setelah mengelola dan memebrikan hasilnya  beberapa tahun.
   Kondisi tanah pertanian Indonesia yang  memiliki unsur kandungan tanah sama biasanya dapat ditanam tanaman sejenis. Sebagai contoh misalnya bawang dapat ditanam di Jawa dan juga Sumatera. Begitu pula lombok, tidak hanya dapat ditanam di daerah Brebes, Kab. Tegal , Pemalang namun juga di Jawa Timur dan    Bali dan daerah lainnya bisa ditanami lombok. Ini berarti para petani kita dapat memilih tanaman palawija dan sebagainya yang dirasa menguntungkan. Disinilah peran dinas pertanian/ kementrian yang ada disetiap kabupaten untuk melakukan percobaan-percobaan tanaman pangan sebagai terobosan peningkatan hasil bumi. Sebagai contoh karena kekurangan kedelai maka petani dipaksakan  tanam kedelai di kandungan tanah yang toidak cocok, sehingga laporan fuso dimana-mana, seperti kebijakan Kredit Usaha Tani  untuk tanam kedelai. Jadilah program kredit macet.
   Dari sedikit contoh permasalahan diatas maka timbul mengapa harga lombok menjulang tinggi. Para penentu kebijakan tahunya hanya hasil yang berlimpah dan sungkan mendengarkan petani gagal panen atau mengatasi permasalahan petani. Berita yang banyak hanya panen perdana dan dibumbui politik.
   Sistem monopoli lahan pertanian dan sedikitnya pemilik lahan menjadikan kurang berkembangnya pasar bebas. Seandainya pemilik lahan lombok merah banyak bukan tidak mungkin sekian banyak petani itu dapat menjual produksinya baik skala kecil atau besar ke pasar mana saja, ke siapa saja, ke arah kota mana saja sesuka hati.
   Belakangan dinas-dinas pertanian di kab/kota atau kanwil propinsi sepertinya hanya lembaga kontrol dan pencatatan  pertanian serta perijinan saja, unsur pembinaan kontinu serta serta peningkatan produktifitas semakin jarang dilakukan. Meski penyuluh pertanian ada, namun kewenangan programnya tak diberikan.
Dulu di acara TVRI ada acara Dari Desa ke Desa dengan pembawa acaranya yang terkenal yaitu Sambas, kini yang ada hanya suguhan petani miskin dan sengsara  yang disuguhkan tv swasta.
   Lombok merah sebetulnya bukan tanaman musiman tanaman ini di Brebes menjadi tanaman andalan, namun di luar negeri lombokdapat ditanam di pot atau polybag dan juga berbuah banyak . Lombok naik dan tidak naik itu biasa , kenapa diributkan menjadi isu politik. Dan perlu diketahui pula baha lombok adalah tanaman berbuah cepat, daundan bunga lombok dapat tumbuh bercama mengiringi batang semakin besar.Semakin bercabang semakin banyak buahnya.



panen_cabai_rawit_perdana3
tanaman cabai dalam pot, picture dari berbagai sumber


 

Kamis, 14 Maret 2013

PETANI BAWANG KITA DIRUGIKAN PEMERINTAH SENDIRI


Departemen Pertanian terutama litbangnya tentunya dapat menghitung berapa kebutuhan bawang merah untuk Indonesia. Kemudian berapa total produksi petani bawang merah kita. Jika masih kurang maka langkah utamanya bukan langsung memutuskan kebijakan impor, tetapi bagaimana meningkatkan produktifitas bawang secara bertahap, sehingga tidak merugikan rakyat. 

Menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS), selama Januari 2013 Indonesia mengimpor bawang merah dengan jumlah 2.755 ton atau senilai US$ 1,4 juta atau Rp 13,3 miliar dalam sebulan. Sementara selama 2012 (Januari-Desember) lalu, impor bawang merah yang dilakukan Indonesia mencapai 96 ribu ton atau senilai US$ 42 juta atau Rp 399 miliar.

Kebijakan impor bawang merah yang tinggi bukanlah sebuah prestasi bagi Indonesia tetapi ini merupakan kerugian terhadap negeri kita sendiri. Bukan tidak mungkin akan timbul dampak dari impor itu terhadap rakyat. 
Bukan saja pemilik lahan tetapi juga buruh tani, buruh panggul, pedagang kecil, tukang grandong angkut bawang, pedagang pasar, sampai anak-anak pekerja kebun bawang akan kesulitan sekolah, dsb.

    Bawang dari India,Perancis, Thailan, Malaysia,  Belanda dsb yang demikian itu akan menjadi monopoli perdagangan bawang yang tidak sehat. Importir akan mengendalikan harga bawang seenaknya, karena stoknya memang besar, lkemudia ia dapat mengadu kualitas karena memang bawang impor terlihat cukup besar dan menarik, namun bukan tidak mungkin yang kelihatan menarik dan besar itu ada sesuatu kekurangannya seperti rasa, dan aromanya. 







Kamis, 28 Februari 2013

GUBERNUR JAWA BARAT 2013-2018 30 % PLUS 1 SUARA TAK MEWAKILI MASYARAKAT JAWA BARAT DIPREDIKSI BAKAL BANYAK MENUAI BADAI


Demokrasi Indonesia nyata betul telah dinodai oleh kepentingan-kepentingan tertentu. Fenomena yang perlu di bahas dalam kalangan akademik. Seorang gubernur dengan demokrasi yang berkembang di Indonesia ini dapat memimpin dengan hanya 30 prosen dari suara yang masuk atau mereka yang datang ke TPS. Lebih parah lagi jika kehadiran dari Daftar Pemilih hanya 60 % atau 40 % mereka yang memiliki hak pilih tidak menyuarakan aspirasi politiknya. Pulus minus gubernur kita hanya dipilih 20 % dari mereka yang memiliki hak pilih di daftar pemilih di Jawa Barat.
   Kalau begitu demokrtasi kita perlu di tinjau untuk kemulian demokrasi di masa mendatang. Padahal kalau memdandingkan dengan Jakarta pada 2012 lalu. Mereka yang terpilih menjadi Gubernur harus 50 % plus 1 suara. Apa beda sebetulnya jakarta dengan jawa barat yang sama-sama sebuah propinsi.
   Inilah kenyataan yang ada seseorang dengan hanya memiliki 20 % suara pemilih di jawa barat dapat menjadi gubernur. Maka bukan tidak mungkin kelemahan ini bardampak pada stabilitas pemerintahan gubernur ke depan.
    Lalu apa beda jika gubernur dipilih oleh DPRD atau dikirim saja dari pemerintah pusat. Sepertinya tak jauh beda. Bahkan lebih mendekati kebenaran jika dipilih oleh DPRD.
   Jika pemilihan Gubernur banyak orang lebih memandang pemilihan figur, kenapa mendaftar calon gubernur lewat partai? bukankah yang mengatakan demikian sudah melupakan mekanisme tahapan pencalonan gubernur?
    Untuk itu mari kita mengkaji lebih dalam lagi tentang Undang-undang, tentang demokrasi, tentang kemuliaan demokrasi dan amanat UUD 1945. Supaya kedepan anak-anak kita tidak lagi diwarisi sistem demokrasi yang keliru.
   Semoga negeri kita dikaruniai aman dan tentram.
 

Minggu, 24 Februari 2013

MASYARAKAT JAWA BARAT MASIH SENANG DAGING DAN SUSU SAPI


SAPI TERBESAR  TELAH DIIKAT DI JAKARTA


STOK SAPI MASIH BANYAK TUNGGU DAFTAR DIPOTONG


DAGING SAPI DIBAGI-BAGI KARENA MUDAH MEMOTONGNYA


IRISAN DAGING SAPI UNTUK CATERING WARGA JABAR


YANG KEBAGIAN ABON SAPI LEBIH MENGUNTUNGKAN
KARENA MELALUI PROSES MASAKAN


EMPAL DAGING SAPI MUDAH DIDAPAT DI KOTA-KOTA
JAWA BARAT


SAPI KIRIMAN TERNYATA DARI PETERNAKAN BANDUNG



ADA BESAR SAPI MASIH BEBAS BELUM DIPOTONG