TEKS SULUH NEWS


Tampilkan postingan dengan label Tinjauan Redaksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tinjauan Redaksi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 Mei 2015

Untuk kita renungkan ! Di Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2015

Untuk kita renungkan !
Di Hari Pendidikan Nasional
1. Gonta-ganti Kurikulum
2. Biaya Oprasional Sekolah (BOS) yang menghitung jumlah siswa per sekolah tetapi biaya sekolah tetap mahal
3. Sistem online pen-data-an pokok pendidikan tak seindah sistem manual
4. Rekrutment Guru tidak jelas
5. Banyak pengabdi pendidikan yang dibayar murah (guru sukarelawan) yang tidak diperhatikan
6. Kreatifitas siswa dibelenggu , percuma menciptakan ini itu
7. Dinas pendididikan di daerah hanya ribut rebutan Jabatan
8. Buku -buku siswa harus beli mahal
9. Tunjangan fungsional (sertifikasi) slalu terlambat
10. Program Mentri hanya slogan ferbalis.
Rg. Bagus Warsono

Selasa, 26 Maret 2013

HARGA LOMBOK MERAH NAIK ITU BIASA




agus warsono
HARGA LOMBOK  MERAH NAIK ITU BIASA, ini sudah sejak dulu. Biasanya naik menjelang bulan Ramadhan dan Idul Fitri. Kenaikan harga lombok merah itu disebabkan oleh beberapa masalah yang masih menjadi PR pemerintah saat ini.
   Agaknya setrategi Kementrian Pertanian tentang swasembada pangan belumlah dikatakan mendapat acungan jempol, munkin litbangnya tidak dioptimalkan, padahal jumlah penduduk Indonesia dan daratan Indonesia yang luas masih sebanding untuk pangan sehari-hari. Bayangkan negara Singapura dan Hongkong yang menggantungkan pangannya dari negara lain.
   Namun kenyataan lain, seandainya pemerintah tak mengimpor beras, maka kita kesulitan beras dan beras menjadi mahal, namun juga patut dipikirkan jika tidak mengimpor seperti di awal-awal kemerdekaan bumi Indonesia ini bisa memberi makan penduduk Indonesia meskipun sampai membuat tiwul (nasi ubi) atau burgur (nasi jagung).
   Halnya mengenai lombok, sebagai bahan makanan bumbu penyedap dan keperluan lainnya sebagai sambal
masakan Indonesia sudah menjadi kebutuhan pokok sama seperti bawang dan bu,mbu lainnya. Disuatu daerah mendadak langka saja, maka rakyat akan teriak lombok tidak ada dan harga lombok selangit.
   Peran kementrian pertanian kini menjadi tidak terfokus karena banyaknya dilematika kebutuhan pertanian kita. "Asal Bapak Senang" agaknya masih saja dipakai oleh jajaran kementrian pertanian kita, Buktinya setiap panen slalu didatangkan Mentri atau Presiden tetapi ketika kekurangan air untuk pertanian mereka para petani bergotong-royong memecahkan masalahnya sendiri, bahkan yang terjadi justru air pertanian dijual belikan.
   Permasalahan lain di Indonesia ini adalah permasalahan ketimpangan sosial antara pemilik lahan dan buruh tani. Dimana-mana di setiap desa  di Indonesia terlihat nyata jelas bahwa jumlah buruh tani lebih banyak dari jumlah pemilik lahan. Banyak buruh taninya ketimbang petaninya. Ini menjadi pemikiran kepada para anggota DPR agar membatasi jumlah lahan meilik perorangan dan perusahaan. Pada masa Presiden Soeharto dulu, ada perkebunan inti rakyat yang bertujuan agar rakyat memiliki lahan pertaniannya setelah mengelola dan memebrikan hasilnya  beberapa tahun.
   Kondisi tanah pertanian Indonesia yang  memiliki unsur kandungan tanah sama biasanya dapat ditanam tanaman sejenis. Sebagai contoh misalnya bawang dapat ditanam di Jawa dan juga Sumatera. Begitu pula lombok, tidak hanya dapat ditanam di daerah Brebes, Kab. Tegal , Pemalang namun juga di Jawa Timur dan    Bali dan daerah lainnya bisa ditanami lombok. Ini berarti para petani kita dapat memilih tanaman palawija dan sebagainya yang dirasa menguntungkan. Disinilah peran dinas pertanian/ kementrian yang ada disetiap kabupaten untuk melakukan percobaan-percobaan tanaman pangan sebagai terobosan peningkatan hasil bumi. Sebagai contoh karena kekurangan kedelai maka petani dipaksakan  tanam kedelai di kandungan tanah yang toidak cocok, sehingga laporan fuso dimana-mana, seperti kebijakan Kredit Usaha Tani  untuk tanam kedelai. Jadilah program kredit macet.
   Dari sedikit contoh permasalahan diatas maka timbul mengapa harga lombok menjulang tinggi. Para penentu kebijakan tahunya hanya hasil yang berlimpah dan sungkan mendengarkan petani gagal panen atau mengatasi permasalahan petani. Berita yang banyak hanya panen perdana dan dibumbui politik.
   Sistem monopoli lahan pertanian dan sedikitnya pemilik lahan menjadikan kurang berkembangnya pasar bebas. Seandainya pemilik lahan lombok merah banyak bukan tidak mungkin sekian banyak petani itu dapat menjual produksinya baik skala kecil atau besar ke pasar mana saja, ke siapa saja, ke arah kota mana saja sesuka hati.
   Belakangan dinas-dinas pertanian di kab/kota atau kanwil propinsi sepertinya hanya lembaga kontrol dan pencatatan  pertanian serta perijinan saja, unsur pembinaan kontinu serta serta peningkatan produktifitas semakin jarang dilakukan. Meski penyuluh pertanian ada, namun kewenangan programnya tak diberikan.
Dulu di acara TVRI ada acara Dari Desa ke Desa dengan pembawa acaranya yang terkenal yaitu Sambas, kini yang ada hanya suguhan petani miskin dan sengsara  yang disuguhkan tv swasta.
   Lombok merah sebetulnya bukan tanaman musiman tanaman ini di Brebes menjadi tanaman andalan, namun di luar negeri lombokdapat ditanam di pot atau polybag dan juga berbuah banyak . Lombok naik dan tidak naik itu biasa , kenapa diributkan menjadi isu politik. Dan perlu diketahui pula baha lombok adalah tanaman berbuah cepat, daundan bunga lombok dapat tumbuh bercama mengiringi batang semakin besar.Semakin bercabang semakin banyak buahnya.



panen_cabai_rawit_perdana3
tanaman cabai dalam pot, picture dari berbagai sumber


 

Senin, 05 November 2012

PAHLAWAN APA? KOK SEBUT PAHLAWAN?

Boleh jadi penghuni taman makam pahlawan kita bakal dihuni orang-orang yang bukan haknya sebagai pahlawan. Mengapa? Kategori siapa saja yang berhak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan tidak tertuang gdalam peraturan yang jelas dan memasyarakat. Tempat itu mungkin akan dihuni jasad orang-orang munafik, koruptor, bahkan penghianat negara.
   Meski di alam akherat Allah akan memilah mereka sesuai amal perbuatannya, namun salah memberikan gelar pahlawan nasional ,  menyesatkan sejarah anak  bangsa ini.
   Bagaimana  penetapan sebagai Pahlawan pada seseorang di era setelah kemerdekaan, atau era setelah proklamasi didengungkan, dan setelah Indonesia 50 tahun merdeka patut ditanyakan? sejauh mana kreteria penetapannya dan disebut pahlawan.
   Kemudian apa tataran apabila disebut pahlawan nasional. Maka apabila pemilihan pahlawan nasional atas dasar kepentingan berbagai macam, misalnya politis, keluarga penguasa, atau sekedar menghormati leluhur yang populair, maka bisa jadi akan meracuni masuarakat dan generasi mendatang. 

Jumat, 17 Agustus 2012

MUKA "GEDEG" PARA PEJABAT DAN MENTRI INDONESIA

Presiden SBY sudah sejak lama terkenal "lambat" mengambil keputusan. Terutama pada mentri dan pejabat negara yang jelas-jelas tidak mampu menjalankan tugasnya.Bahkan juga pada mentri dan pejabat yang santer terlibat korupsi baik langsung ataupun tidak langsung. Keadaan ini terkadang membuat jengkel masyarakat.
Kemudian karakter para pejabat/mentri kita  memang muka tebal (gedeg) mereka tidak akan kapok atau malu atau merasa bersalah. Bahkan lebih banyak bohong dan "mungkir" atas perbuatannya.
Sudah jelas tidak mampu bertugas, berbuat sebagaimana fungsinya, tetap saja "mbalelo" dan "cuek bebek".
Alasan dibuat aneka macam untuk menutupi perbuatannya yang kurang beres.
Sebagaimana contoh adalah mentri Andi Mararangeng yang memang jelas kurang "beres" menangani olah raga.

67 Merdeka , Negeri Miskin Prestasi Olah Raga

Prestasi olah raga Indonesia dalam era SBY ini merupakan prestasi terpuruk dalam sejarah olah raga Nasional, terutama prestasi olah raga di event-event internasional. Namun anehnya Presiden yang  terkenal lamban mengambil keputusan ini malah membiarkan prestasi olah raga kita merosot dan membiarkan mentri yang menangani olah raga di Indonesia yang banyak "bacot" (istilah preman) nyerocos menutupi kinerjanya yang gagal.

Jumat, 10 Agustus 2012

NEGERI YANG INGIN BEBAS KORUP TAPI SETENGAH HATI

Adalah Indonesia di 2012 ini. Sebuah negeri yang mendambakan bebas dari korup tetapi cita-cita itu digarap  dengan setengah hati. Sejak masalah korupsi dimasukan dalam ketetapan MPR di awal reformasi, garapan pemerintah yang berkuasa sepenjang era ini sampai sekarang dapat diambil kesimpulan hanyalah dagelan dan suguhan tontonan yang klasik bagi bangsa ini. Karena hasil dari kerja pemerintah yang berkuasa dari mulai pemerintahan BJ Habibie, Abdurrachman Wahid, Megawati, sampai SBY tak ada prestasi yang cukup dinilai baik dalam ukuran nasional tentang garapan pemberantasan korupsi.
    Semua hanya omong kosong/ bualan , slogan verbalis, dan program ngambang yang bertujuan untuk membodohi rakyat.
    Berapa trilyun uang negara yang dikorupsi dan berapa uang yang kembali, serta berapa oknum yang menjadi tersangka dan berapa orang yang korup dijebloskan penjara masih belum mencapai prosentase yang dapat dinilai baik.
   Harapan rakyat kepada penegak hukum akan pemberantasan korupsi sebetulnya sudah dipercayakan pada penyelenggara penegakan hukum itu seperti Kepolisian, Kejaksaan, Kehakiman, sampai KPK, namun rakyat hanya menaruh harapan terus menerus tanpa melihat hasil yang berdampak pada perubahan karakter bangsa ini. Malah justru perilaku korup semakin menjadi-jadi. Akhirnya tumpuan harapan kepercayaan itu makin tak jelas dan akhirnya menjadi masa-bodoh dan akhirnya terserah saja pada yang menyelenggarakan pemerintah ini.
   
    

Kamis, 05 Juli 2012

KRISIS KEPERCAYAAN PADA TOKOH-TOKOH NASIONAL, KINI MULAI MEKAR TOKOH DAERAH YANG SIAP MENGGANTIKAN TOKOH NASIONAL

Jelang 2014 pilpres berlangsung, Indonesia tampak mulai ada penurunan jumlah tokoh tokoh yang akan mengganti SBY. Nama-nama masih berkutat pada tokoh-tokoh yang 2004-2008 ketika itu , kini masih saja merasa belum puas. Beberapa diantaranya undur diri karena usia lanjut, namun beberapa menyatakan kesiapannya meski usia makin menua. Mereka yang masih merasa muda tentu berkesempatan tampil kembali, dan yang telah lanjut usia beralasan tidak ada batasan usia dan merasa pengabdiannya belum selesai.
    Sikap legowo agaknya belum dimiliki secara umum dikalangan tokoh-tokoh senior itu. Tidak tahu apakah mengira mereka mengira apa tidak tokoh muda/baru itu  tak sipintar seniornya, atau memang tak ada lagi orang pintar di negeri ini.
   Merasa dibelenggu itu maka bukan tidak mungkin kini akan bermunculan tokoh-tokoh daerah yang mumpuni akan menyatakan siap menggantikan seniornya.
   Di taun taun 70 dan 80-an , seorang gubernur cukup populair di tingkat nasional. Mungkin pengaruh TVRI, atau propinsinya juga masih sedikit. Di taun-taun itu beberapa gubernur banyak yang diangkat menjadi mentri dsb.
   Kini kesempatan itu tidak ada, namun keberhasilan daerah dengan konsep otonomi daerah maka banyak tokoh-tokoh daerah yang cukup layak dipandang sebaai tokoh nasional dan siap menggantikan para seniornya yang kini sudah tampak tua tua.
    Tetapi semua tergantung dari mana tangga itu di pancat. Yang jelas kini tampak tokoh-tokoh daera melanglang ibukota untuk dapat bersaing di kancah tokoh nasional.
   

Rabu, 04 Juli 2012

INDONESIA MASIH BERKUTAT PADA MASALAH SUKSESI KEPALA DAERAH

Oleh Agus Warsono,MSi.
Perhatian Indonesia dewasa ini masih dalam kondisi permasalahan korupsi, suksesi kepala daerah, pimpinan nasional,hukum, pendidikan  dan kemiskinan. Beberapa yang terabaikan diantaranya swasembada pangan, hak asasi, pelestarian sumberdaya alam, pelestarian hewan langka, pertahanan keamanan nasional, produk dalam negeri yang modern, peran Indonesia di luar neggeri, moneter, hutang negara,  pertambaan penduduk serta hal lain yang terabaikan.
    Dalam usia 67 tahun merdeka, sebuah usia yang dalam psikologi memasuki lansia, memang justru "kekanak-kanakan" . Dengan keadaan seperi ini tentu terdapat kekhawatiran Indonesia ke depan. Namun Pemerintah bukannya tidak memahami al ini, sejumlah kementrian yang ada telah dapat mencakup bidang permasalaan yang terabaikan sekarang. Tapi justru Pemerintah sendiri seperti menuruti apa yang dimaui rakyat dan terkadang bersifat menurut asal tidak mengganggu Pemerintahan saat ini.
   Kemauan rakyat yang tidak dibarengi dengan pemikiran dewasa menjadi seolah olah apa maunya rakyat saja. Boleh jadi seperti tak ada solusinya teradap kenaikan subsidi minyak , hutang kita makin bertumpuk, dan bukannya tidak sadar bahwa kita hidup dari utang.